No 42
Minggu, 08 April 2018
Rabu, 08 Juni 2016
KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP
Punya Anak Kembar,
Arsitek Belanda Bikin Gedung Kembar di Kayutangan
Warga Kota Malang pasti
tahu kawasan Kayutangan. Tapi, mungkin tak banyak tahu, mengapa disebut
Kayutangan? Mengapa dulu orang-orang Eropa banyak yang memilih tinggal di sana?
Setidaknya ada dua
versi yang menyebutkan, mengapa disebut Jalan Kayutangan, yang di zaman Belanda
dikenal dengan nama Jalan Pita itu?
Pertama, merujuk pada
data sejarahyang menyebutkan sebelum tahun 1914 di kawasan itu terdapat papan
penunjuk arah berukuran besar yang berbentuk tangan yang dibuat oleh Belanda.
Kedua, disaat mulai
berkembangnya kawasan alun-alun, di ujung jalan arah alun-alun terdapat pohon
yang menyerupai tangan. Karena itu kawasan tersebut lantas disebut Kayutangan.
Entah mana yang menjadi
dasar. Yang jelas, nama Kayutangan (Kajoetangan) banyak terdapat di buku
laporan Belanda tahun 1890 hingga masih diucapkan sampai sekarang. Kompleks
pertokoan di sepanjang Jalan Kayutangan (sekarang Jalan Basuki Rahmad) mulai
dari pertigaan depan PLN sampai di depan Gereja Katolik Kayutangan dibangun
antara tahun 1930-1940, yang saat itu bergaya atap datar dan berbentuk kubus.
Sejarah Malang: Khasanah Tinggalan Budaya Indis di Malang (10)
Khasanah Tinggalan
Budaya Indis di Malang (10)
Oleh:
Drs. M. Dwi Cahyono,
M.Hum
(Universitas Negeri
Malang)
5. Komplek Makam bagi
Golongan Eropa di Sukun
Pengadaan komplek makam
untuk golongan Eropa di Sukun dilakukan bertepat-an dengan tahap ke-3 rencana
perluasan pembangunan (Bouwplan III), yang dilaksanakan pada tahun 1920. Dalam
rencana perluasan ini, pada areal di bagian selatan Kota Malang hendak dibangun
komplek pemakaman yang layak bagi golongan Eropa yang bermukim di Malang.
Sebenarnya, makam Sukun bukanlah makam bagi golongan Eropa yang pertama di
Malang. Pada masa sebelumnya, terdapat makam Balanda di Klojen Lor. Lokasi
makam ini adalah di Jalan Trunojoyo sekarang (dulu bernama Goedangweg), yang
setelah relokasi tanah eks makam ini untuk sementara waktu pernah digunakan
sebagai terminal bus. Me-nilik lokasinya yang berdekatan dengan loji pertama di
Malang yang didirikan tahun 1767, boleh jadi kompleks makam ini adalah makam
golongan Eropa tertua di Kota Malang, yang telah ada semenjak akhir abad ke-18.
Selain itu terdapat dua makam umum lainnya di uta-ra dan selatan jalan yang
dulu bernama Kutobedahstraat, yaitu makam Islam di Soekorejo yang berlokasi di
utara jalan dan makam Tiong Hoa di selatan jalan.
Dalam Bouwplan I
direncanakan untuk membangunan perumahan bagi golongan Eropa dari Celaket
hingga Rampal, yang dikenal dengan sebutan “Oranjebuurt”. Dalam ka-itan itu,
makam golongan Eropa di Klojen Lor Straat dipandang perlu untuk direlokasikan
ke tempat lain, sebab tidak layak terdapat kompleks makam di tengah-tengah
areal peru-mahan.
Sejarah Malang: Khasanah Tinggalan Budaya Indis di Malang (8)
Khasanah Tinggalan
Budaya Indis di Malang (8)
Oleh:
Drs. M. Dwi Cahyono,
M.Hum
(Universitas Negeri
Malang)
1.2. Kompleks SMU
Alon-alon Tugu
Visi pengembangan Kota
Malang tertuang dalam sasanti berbunyi “Tri Bina Cita Kota Malang”, yang
terdiri atas: (1) Malang Kota Pendidikan, (2) Malang Kota Pariwisata, dan (3)
Malang Kota Industri. Visi Kota sebagai Kota Pendidikan punya cukup alasan.
Oleh karena semenjak masa Pemerintahan Hindia-Belanda (Nederlandsche-Indie),
Kota Malang telah tampil sebagai sentra pendidikan yang penting di wilayah Jawa
Timur.
Sejarah Malang: Khasanah Tinggalan Budaya Indis di Malang (7)
Khasanah Tinggalan
Budaya Indis di Malang (7)
Oleh:
Drs. M. Dwi Cahyono,
M.Hum
(Universitas Negeri
Malang)
2. Kawasan Ijen
Boulevart
Pembangunan Ijen
Boulevart serta daerah di sekitarnya
yang mengambil nama-nama jalan
dari nama gunung (Bergenbuurt) bertepatan dengan pengembangan perluasan kota
(Bouwplan) VI, yang dimulai tahun pada 1924/1925 hingga jelang Masa Pendudukan
Jepang. Lokasinya pada bagian barat Kota Malang, yang topografinya lebih tinggi
daripada daerah lainnya. Oleh karena itu sesuai bila diperuntukan bagi
perumahan golongan Eropa kelas menengah ke atas, dengan rumah-rumah bertipe
villa. Perluasan kota ke arah barat ini didasari pertimbangan akan meningkatnya
jumlah warga Eropa yang bermukim di Kota Malang. Antara tahun 1920-1930 jumlah
mereka meningkat 100% (tahun 1920 berjumlah 3.504 jiwa, tahun 1930 menjadi
7.463 jiwa).
Sejarah Malang: Khasanah Tinggalan Budaya Indis di Malang (4)
Khasanah Tinggalan Budaya
Indis di Malang (4)
Oleh:
Drs. M. Dwi Cahyono,
M.Hum
(Universitas Negeri
Malang)
B. Konsep dan Tahapan
Penataan Kota Malang
1. Konseptor dan Konsep
Penataan Kota Malang
Kota Malang adalah
salah satu dari tidak banyak kota di Indonesia yang telah semenjak Masa
Hindia-Belanda ditata secara terencana, terarah, dan terpadu. Planolog yang
megemban peran dominan dalam menata Kota Malang pada masa lampau adalah Herman
Thomas Karsten. Arsitek kelahiran Amsterdam pada tanggal 29 April 1884 ini
menamatkan studinya pada Sekolah Tinggi Teknik di Delf tahun 1909. Pada tahun
1914 ia menumpang kapal yang terakhir menuju ke Hindia-Belanda guna memenuhi
undangan teman lamanya sewaktu studi di Delf, Henri Maclaine Pont, untuk
membatu usahanya di biro arsitek yang didirikan tahun 1913 di Semarang.
Sejarah Malang: Khasanah Tinggalan Budaya Indis di Malang (3)
Khasanah Tinggalan
Budaya Indis di Malang (3)
Oleh:
Drs. M. Dwi Cahyono,
M.Hum
(Universitas Negeri
Malang)
3. Malang sebagai
Daerah Produsen dan Pemasaran Hasil Bumi
Bagi masyarakat
agraris, pertimbangan untuk memilih bermukim di Malang adalah faktor kesuburan
tanahnya, yang cocok untuk aktivitas ekonomi bertani atau berkebun.
Sebelum masa
kemerdekaan RI, hampir seluruh kawasan Malang, yang kini berkembang menjadi Kota
Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu, merupakan areal pertanian dan
perkebunan yang potensial. Wilayah Kota Malang yang kini padat penduduk dan
hampir tak tersisa lahan untuk pertanian. Padahal, pada tahun 1914 masih
memiliki persawahan dan perkebunan yang cukup luas. Selain padi dan palawija
sebagai tanaman pertanian, tanaman perkebunan seperti teh, kina, tebu, buah,
sayur, dan terutama kopi merupakan produksi unggulan di kawasan Malang.
Sejarah Malang: Khasanah Tinggalan Budaya Indis di Malang (1)
Khasanah Tinggalan
Budaya Indis di Malang
A. Latar Keberadaan
Budaya Indis di Kawasan Malang
Malang adalah salah
satu daerah di Jawa Timur yang memiliki banyak tinggalan budaya Indis.
Kota-kota lain yang tergolong kaya akan peninggalan budaya Indis adalah
Surabaya, Pasuruan dan Probolinggo, Di samping itu, kendati tidak sekaya
keempatnya, Kota Kediri, Kabupaten Sumenep dan Tuban, serta Kecamatan Besuki,
Babad dan Bangil juga mempunyai cukup banyak tinggalan budaya Indis. Di wilayah
Malang, tinggalan budaya Indis paling banyak berada di dalam Kota Malang. Di
luar Kota Malang, masih terdapat sejumlah tempat yang juga kedapatan banyak
peninggalan budaya Indis, seperti Lawang, Batu dan Turen. Peninggalan budaya
Indis di kawasan Malang tersebar di penjuru wilayah-nya. Kekayaan akan
tinggalan budaya Indis itu tak lepas dari perannya pada masa Hindia Belanda,
baik dalam bidang politik, pemerintahan, ekonomi, dan lebih dari itu dilatari
oleh keelokan panorama alamnya yang sejuk-nyaman.
Minggu, 17 April 2016
BOIKOT Putu Wijaya
Boikot
Cerpen Putu Wijaya (Suara Merdeka, 6 Maret 2011)
SEORANG warga memelihara hantu di rumahnya. Berita itu mula-mula menjadi bahan tertawaan. Tetapi ketika beberapa warga mulai datang untuk menengok hantu itu dan diam-diam minta pertolongan, masalahnya jadi berbeda.
Ada yang datang untuk minta kesembuhan. Ada yang ingin kaya. Ada yang minta naik pangkat. Minta jodoh. Anak-anak sekolah juga datang mau lulus ujian tanpa harus belajar. Ada juga koruptor-koruptor teri yang minta jangan sampai ulahnya ketahuan, tapi bukan untuk kapok, malahan mau meneruskan kariernya.
Keadilan Putu Wijaya
Keadilan
Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 7 Oktober 2012)
ADA suatu masa, ada saat banyak pedagang es pudeng dari Jawa berkeliaran di Bali. Mereka memakai kostum yang menarik dengan topi-topi kerucut, gendongan es puter mereka desainnya cantik. Gelas-gelas kaca atau plastik ala koktail bergantungan dengan pudeng berwarna-warni. Kalau mereka lewat anak-anak selalu memburunya. Kadang-kadang tidak untuk membeli, tetapi untuk mengerumuninya. Pak Amat termasuk salah satu di antara anak-anak itu. Tanpa merasa malu, ia ikut berebutan untuk membeli es pudeng puter dan merasakan suasana cerianya. Bu Amat sampai malu melihat kelakuan suaminya seperti itu.
Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata PUTU WIJAYA
Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata
PUTU WIJAYA
Aku menunggu setengah jam sampai toko bunga itu buka. Tapi satu jam kemudian aku belum berhasil memilih. Tak ada yang mantap. Penjaga toko itu sampai bosan menyapa dan memujikan dagangannya.
Ketika hampir aku putuskan untuk mencari ke tempat lain, suara seorang perempuan menyapa.
”Mencari bunga untuk apa Pak?”
Aku menoleh dan menemukan seorang gadis cantik usianya di bawah 25 tahun. Atau mungkin kurang dari itu.
GURU Cerpen Putu Wijaya
GURU
Cerpen Putu Wijaya
Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.
"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!"
Taksu mengangguk.
"Betul Pak."
Kami kaget.
"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"
"Ya."
Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata Taksu nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.
Kamis, 07 April 2016
Terselamatkan oleh Alam
Terselamatkan oleh Alam
Pada suatu hari yang sangat tenang dan damai, dimana burung berkicau dengan suka cita dan pepohonan sedang bermain dengan angin menari – nari ke sana kemari hingga menghasilkan gerakan yang sangat indah. Namun, ketenangan itu kini terusik dengan suara mesin yang merong – rong memilukan hati, dan juga suara gemuruh dari pepohonan yang tumbang.
Tak jauh dari tempat tersebut, tinggalah seorang kakek yang sangat tua dan renta. Ia terbangun dari tidur siangnya akibat dari suara yang memekikan telinga itu. Dengan segera sang kakek bangun dari kursi bambunya dan menuju sumber suara tersebut.
Rumah yang Terang karya Ahmad Tohari
Rumah yang Terang
karya Ahmad Tohari
Listrik sudah empat tahun masuk kampungku dan sudah banyak yang dilakukannya. Kampung seperti mendampat injeksi tenaga baru yang membuatnya menggeliat penuh gairah. Listrik memberi kampungku cahaya, musik, es, sampai api dan angin. Di kampungku, listrik juga membunuh bulan di langit. Bulan tidak lagi menarik hati anak-anak. Bulan tidak lagi mampu membuat bayang-bayang pepohonan. Tapi kampung tidak merasa kehilangan bulan. Juga tidak merasa kehilangan tiga laki-laki yang tersengat listrik hingga mati.
Langganan:
Postingan (Atom)






